Posts Tagged ‘ curhat ’

A Whole New World

Lama tak posting…
Dan sekarang sedang menjalani babak baru kehidupan.
New home, new workplace…
Di kota yang membuat ku harus mentolerir banyak hal
Cuacanya… Sampahnya… Banjirnya…

Dan tentu seorang teman baru
Yang setia menemani meski tak selalu ada di samping
Yang tak akan membalas meski kuhantamkan kepal tanganku keras-keras ke tubuh nya
Yang hanya membisu ketika teriak yang keluar dari mulut ku
Yang dengan tenang memungut kembali semua benda yang kulemparkan dengan amarah
Dan kemudian hanya memelukku erat-erat

Memang bukan teman yang sepenuhnya mengerti
tapi teman yang selalu berusaha memahami
Memang bukan teman yang sempurna
tapi teman yang tak lelah bertahan

Dan meski jalan di depan masih tak tampak
Mungkin bersamanya, dengan genggam tangannya
Langkah kaki ini tak akan berhenti
Yakin melangkah untuk mencari ridha Illahi…

Advertisements

Manusia dan kesalahan – sebuah prosa

Manusia pernah membuat kesalahan.
Namun tidak semuanya mau mengakuinya.
Hanya sebagian dari yang mengakuinya mau menebus kesalahan mereka.
Dan hanya sebagian kecil yang mau memaafkan kesalahan yang dilakukan orang lain.
Padahal yang tidak dapat kita pungkiri adalah manusia pasti berbuat kesalahan.
Yang perlu dipahami hanyalah bahwa kita tidak tahu bilamana suatu ketika kita dihadapkan dengan suatu keadaan dan masalah yang membuat kita dapat melakukan kesalahan yang sama.
Meskipun keadaan dan masalah itu tidak lah sama.

me and my weak mentality

someone I know, became so strong after being bullied and underestimated
as people are so various
I know I am the opposite of him
I hold back my tears, but sometimes, my heart just cant hold to beat fast
pain in this heart really make me want to stop trying, sometimes to stop living too
I know, that was a bad idea
evil idea
I still have Allah though, with this faith, I stand up
lets be stronger, Vina

thanks Heart, for beating everyday, for being synchronized with my mind
Thank for keep me trying and alive

lets face it, maybe still with weak heart
but definitely with some stronger determination
lets continue, to the very end, until this heart stops beating

Kata-kata lembut

Nayla, keponakanku, sudah menginjak usia 8 tahun, tapi disuruh sholat sulitnya bukan main. Sekarang-sekarang ini (setelah Ramadhan) sudah mulai gag pernah bolong lagi, tapi teteeep aja nundanya lama banget dan seringnya sampai waktu sholat hampir/ sudah habis. Mama dan papanya Nayla (dan orangtuaku) selalu ngingetinnya dengan ucapan keras dan nada penuh jengkel, sayapun juga sama. Tapi saya pikir-pikir, peringatan dengan nada jengkel sama sekali tidak mempan buat Nayla (yang mungkin juga sama tidak mempan buatku juga /mempan cuma sebentar). Jadi harus ada cara lain. Saya tahu betul, ingatan Nayla sangat kuat terutama ketika dia mendengar cerita yang menarik, sindiran yang mengundang senyum, dan cerita perumpaan yang logis, so saya ingin menerapkan ini dengan mengurangi rasa jengkel dan nada bicara saya.
Pagi ini Nayla sholat subuh. Jam 7.30. Ketika mulai memberi nasihat “Nayla, lain kali gag boleh lo seperti ini, sudah terlambat ini”. Dan dia mulai beralasan; gag dibangunin lah, di rumah biasa begitu lah. Saya muter otak dengan apa yang harus saya katakan, entah datang inspirasi darimana, sepersekian detik kemudian mulut saya terbuka:

Nayla, kalau sholat terlambat dari waktunya, itu seperti kalau kamu terlambat menyelesaikan soal ulangan di sekolah, teman-teman kamu sudah selesai, sudah dikumpulkan jawabannya dan pulang, tapi kamu belum sendiri. Tahu apa yang terjadi kemudian? Kamu tetep bisa ngumpulin jawabanmu, tapi nilaimu nanti tidak dihitung dan tidak bisa masuk rapor. Akhirnya gag naik kelas deh.

Nayla terpancing dengan kata-kata saya. “Tapikan kalau gag sholat gag ada hubungannya dengan naik kelas?”. Jawaban saya: ” kalo sholat, bukan nilai ulangan yang dihitung, tapi pahala. Jadi bukan gag naik kelas, tapi nanti gag bisa naik ke surga Allah”.
Aw aw aw, so sweet ya, haha. Semoga berdampak baik buat Nayla. Keuntungan lain dari kata-kata lembut ini adalah kata-kata ini bahkan bisa menohok si orang yang ngomong. Diri sendiri tersindir, ouch…
Bagaimana? Kata-kata lembut jauh lebih baik kan? daripada dengan kata-kata bernada tinggi yang datang karena rasa jengkel yang seringkali sejenak menghilangkan kesadaran kita. Mau bukti? Berapa banyak orang tua di dunia ini yang cepat-cepat nyuruh anaknya mandi karena terburu-buru akan pergi bersama ke suatu tempat (misal janjian reuni atau mau belanja keburu siang) tapi gag sadar bahwa di waktu lain ketika orang lain berada di situasi sama dengannya, sikapnya sama persis dengan sikap anaknya yang merasa bahwa situasi itu tidak mendesak untuknya. Kalo inget tentang anak-anak, jadi inget novel Little Prince (banyak banget hikmahnya tentang bagaimana orang dewasa bersikap dibanding anak-anak).
Anak-anak itu selalu benar kawan, yang bikin dia salah itu karena dia tidak tahu. Tidak tahu kalau sesuatu itu tidak boleh dilakukan, tidak boleh ditiru, tidak boleh ditinggalkan, tidak bisa membedakan situasi kapan sesuatu itu boleh dilakukan, dll. Sedangkan kita orang dewasa yang serba tahu, sering sengaja melanggar dan berbuat salah…

Teruntuk Sahabat dan Keponakanku yang Baru Lahir

Belakangan ini, beberapa event-event kebetulan hadir di hidupku…
Pertama postcrossing, aq menebak tanggal kapan postcard ke 30juta sampai dengan benar dari 1 bulan sebelumnya, walopun jamnya salah (tebakanku sekitar jam 3 pagi, ternyata hasilnya jam 00:57, huhu).
Kemudian waktu aq ngaji aq nemu kata “manami” (AsShoffat:102), aq uda lama pengen nemu kata yang baik artinya dalam bahasa jepang dan bahasa arab, karena AlQuran yg aku biasa ngaji tidak ada terjemahannya, aku cari di AlQuran per kata yang besar, dan lagi-lagi ketika kubuka AlQuran itu, kebetulan langsung ke halaman yang dimaksud (manami =  dalam tidur/ mimpi, bagian dari clausa “…aku [Nabi Ibrahim AS] melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu [Nabi Ismail AS]…”).
Dan terakhir ketika kakakku bilang due date kelahiran anaknya adalah tanggal 10 Juni, aku langsung menebak kalo tanggal kelahirannya pasti maju jadi tanggal 6, sama dengan tanggal lahir seorang sahabat yang kukenal yang berada nun jauh di sana. That was quite something!
Posting ini didedikasikan untuk mereka berdua, seorang keponakan yang baru saja lahir dan belum punya nama yang pasti, dan seorang teman yang baru saja memperingati hari lahirnya.

Ahsan’s lil bro, semoga jadi anak yang soleh, pandai, sehat, ceria, dan senantiasa dilindungi oleh Allah SWT.
ユニちゃん, I hope you’ll continue the right path you’ve chosen smoothly, and always be under His loving care, be healthy, and be happy.

Baru kemarin aku ingat pendapatnya mengenai “usaha dan prestasi” yang menjadi nasihat yang kuingat selalu ketika aku cemburu dengan prestasi orang lain : “orang itu seringnya ngliat orang lain sukses dengan mudah, padahal kita nggak pernah tahu bahwa apa yang dia usahakan untuk mencapai kesuksesan itu mungkin sangat melelahkan dan penuh perjuangan (di-alihbahasakan oleh author)”. Kata-kata ini yang membuatku selalu ber-postitive thinking tentang orang lain.
I dont have so many friends and family members, but I love them very very much.

Letters to my self

I wrote some letters to my self years ago. Surprisingly, its always comfort me. Maybe because I always find it when I face big trouble (actually its always): questioning future. First letter I wrote in 2006, my senior year of high school.
IMG_20150224_184328
Continue reading

Aftermath…

I was so nervous
I was so stupid
I was so careless
I was so rash
I was so annoyed with my self
I was so wrong
and I held back my tears so hardly

Until today I’ve been so down

Yesterday, a friend chatted on WA group and I was so surprised…

“temen labku dimarahi sensei waktu seminar, abis seminar dy pulang. looks like he’s crying”
kenapa dimarahi?
“yg kutangkep, intinya: `masa hal kayak gini d presentasikan di meeting, ditanya ini ga bisa jawab, ditanya itu ga bisa jawab` tp si bocahnya emang salah sih”

Wow, so similar with my experience last thursday.
Than I asked my friend “How are that friend doing now? Is he alright now?”

“abis dimarahi dia keluar
sorenya uda balik lagi
looks okay
move on
nangis terus move on”

.
.
.

Maybe I should do that too. Instead holding back tears and pretending to be okay, pretending to be strong… maybe all I have to do now is crying.
Sometimes, crying is the best thing to do, instead of running away.
Crying then moving on… I made mistake, and continuing making mistakes when I run away…