Kata-kata lembut

Nayla, keponakanku, sudah menginjak usia 8 tahun, tapi disuruh sholat sulitnya bukan main. Sekarang-sekarang ini (setelah Ramadhan) sudah mulai gag pernah bolong lagi, tapi teteeep aja nundanya lama banget dan seringnya sampai waktu sholat hampir/ sudah habis. Mama dan papanya Nayla (dan orangtuaku) selalu ngingetinnya dengan ucapan keras dan nada penuh jengkel, sayapun juga sama. Tapi saya pikir-pikir, peringatan dengan nada jengkel sama sekali tidak mempan buat Nayla (yang mungkin juga sama tidak mempan buatku juga /mempan cuma sebentar). Jadi harus ada cara lain. Saya tahu betul, ingatan Nayla sangat kuat terutama ketika dia mendengar cerita yang menarik, sindiran yang mengundang senyum, dan cerita perumpaan yang logis, so saya ingin menerapkan ini dengan mengurangi rasa jengkel dan nada bicara saya.
Pagi ini Nayla sholat subuh. Jam 7.30. Ketika mulai memberi nasihat “Nayla, lain kali gag boleh lo seperti ini, sudah terlambat ini”. Dan dia mulai beralasan; gag dibangunin lah, di rumah biasa begitu lah. Saya muter otak dengan apa yang harus saya katakan, entah datang inspirasi darimana, sepersekian detik kemudian mulut saya terbuka:

Nayla, kalau sholat terlambat dari waktunya, itu seperti kalau kamu terlambat menyelesaikan soal ulangan di sekolah, teman-teman kamu sudah selesai, sudah dikumpulkan jawabannya dan pulang, tapi kamu belum sendiri. Tahu apa yang terjadi kemudian? Kamu tetep bisa ngumpulin jawabanmu, tapi nilaimu nanti tidak dihitung dan tidak bisa masuk rapor. Akhirnya gag naik kelas deh.

Nayla terpancing dengan kata-kata saya. “Tapikan kalau gag sholat gag ada hubungannya dengan naik kelas?”. Jawaban saya: ” kalo sholat, bukan nilai ulangan yang dihitung, tapi pahala. Jadi bukan gag naik kelas, tapi nanti gag bisa naik ke surga Allah”.
Aw aw aw, so sweet ya, haha. Semoga berdampak baik buat Nayla. Keuntungan lain dari kata-kata lembut ini adalah kata-kata ini bahkan bisa menohok si orang yang ngomong. Diri sendiri tersindir, ouch…
Bagaimana? Kata-kata lembut jauh lebih baik kan? daripada dengan kata-kata bernada tinggi yang datang karena rasa jengkel yang seringkali sejenak menghilangkan kesadaran kita. Mau bukti? Berapa banyak orang tua di dunia ini yang cepat-cepat nyuruh anaknya mandi karena terburu-buru akan pergi bersama ke suatu tempat (misal janjian reuni atau mau belanja keburu siang) tapi gag sadar bahwa di waktu lain ketika orang lain berada di situasi sama dengannya, sikapnya sama persis dengan sikap anaknya yang merasa bahwa situasi itu tidak mendesak untuknya. Kalo inget tentang anak-anak, jadi inget novel Little Prince (banyak banget hikmahnya tentang bagaimana orang dewasa bersikap dibanding anak-anak).
Anak-anak itu selalu benar kawan, yang bikin dia salah itu karena dia tidak tahu. Tidak tahu kalau sesuatu itu tidak boleh dilakukan, tidak boleh ditiru, tidak boleh ditinggalkan, tidak bisa membedakan situasi kapan sesuatu itu boleh dilakukan, dll. Sedangkan kita orang dewasa yang serba tahu, sering sengaja melanggar dan berbuat salah…

  1. Very rapidly this site will be famous amid all blog viewers, due to it’s
    good posts

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: